Untukmu Ibu...
Keridhaan Allah tergantung kepada keridhaan kedua orang tua dan murka
Allah pun terletak pada murka kedua orang tua. (HR. Al Hakim)
Seorang
sahabat bertanya, "Ya Rasulullah, siapa yang paling berhak memperoleh
pelayanan dan persahabatanku?" Nabi Saw menjawab,
"ibumu...ibumu...ibumu, kemudian ayahmu dan kemudian yang lebih dekat
kepadamu dan yang lebih dekat kepadamu." (Mutafaq'alaih).
Sayup terdengar lantunan ayat suci
membuatku tersentak,
terjaga dari mimpi.
Tanpa terasa airmata turun perlahan,
Membasahi wajah dan
sesak memenuhi rongga dada.
Baru saja kudengar,
Sapa dari Bunda tercinta
yang menemuiku dlm mimpi.
Yang tak bosan mengingatkanku
untuk selalu menjadi yg terbaik.,
Dalam perjalanan hidupku
Untukmu
Ibu ... Pengorbanan yang selama ini engkau berikan akan menjadi awal
untuk perjuanganku di muka bumi ini. semoga Allah Meridhaimu. Amin.





Besar Pengorbanan Ibu



















Foto diambil dari berbagai situs internet
I Love You Mom.
Ibu Engkaulah wanita yang mulia,
derajatmu tiga tingkat dibanding ayah,
kau mengandung, melahirkan dan menyusui….”
Demikian salah satu bait sebuah qasidah berjudul ibu yang dulu pernah populer pada zamannya dinyanyikan oleh salah satu group qasidah ternama saat itu.
Lagu tesebut tidaklah berlebihan apalagi bid’ah, karena Rasulullahpun pernah mengisyaratkan dalam sebuah hadits yang berbunyi :
عن أبي هريرة ـ رضي الله عنه ـ قال : جاء رجل إلى رسول الله ـ
صلى الله عليه وسلم ـ فقال : يا رسول الله : ” من أحق الناس بحسن صحابتي ؟
قال : أمك . قال : ثم من ؟ قال : أمك . قال : ثم من ؟ قال : أمك . قال ثم
من ؟ قال : ثم أبوك ” . رواه البخاري
ومسلم . وابن ماجه
Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Ada seseorang yang
datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah orang
yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia
bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu
siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)
Memperhatikan bunyi hadits di atas betapa Rasulullah memuliakan para
Ibu dan memerintahkan kepada kita untuk memuliakannya. Dalam hadits
tersebut ibu disebut tiga kali sedangkan ayah hanya satu kali hnal itu
menunjukan bahwa ibu memiliki tiga kali hak lebih banyak daripada
ayahnya. Hal ini bisa dipahami dari kerepotan ketika hamil, melahirkan,
menyusui. Tiga hal ini hanya bisa dikerjakan oleh ibu, dengan berbagai penderitaannya, kemudian ayah menyertainya dalam tarbiyah, pembinaan, dan pengasuhan.
Hal itu diisyaratkan pula dalam firman Allah swt., “Dan kami
perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-
bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-
tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun –selambat-lambat waktu menyapih
ialah setelah anak berumur dua tahun–, bersyukurlah kepadaKu dan kepada
dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)
Kelelahan yang dirasakan ibu saat mengandung, melahirkan, menyusui,
dan membesarkan kita tak pernah mereka meminta imbalan sedikitpun,
kebahagiaan yang dirasakan anaknya sudah cukup untuk membuatnya bahagia.
Demikian juga sebaliknya penderitaan yang dirasakan anaknya akan
membuat ibu menmderita. tidak ada seorang ibupun yang rela melihat
anaknya menderita dia akan selalu terjaga pada kegelapan malam karen tak
mau anaknya disakiti walau oleh seekor nyamuk seklipun.
Apa yang telah bisa kita persembahkan untuk ibu kita tercinta pada
hari ibu tahun ini ?, sudahkah kita membahagiakanya ?, seberapa sering
kita menyakitinya ?, sudahkah kita mendahulukan kepentingan dan
kemaslahatan untuk ibu kita ?, atau malah kita kalah oleh pekerjaan kita
yang super sibuk, oleh istri kita yang selalu meminta perhatian lebih
dari kita ?, oleh anak-anak kita yang terkadang membuat kita terlena
karena asyik masyuk bercanda ria dengan mereka?.
Cukuplah Alqomah di tanah Arab yang durhaka kepada ibunya dan
hampir-hampir tak mampu membaca dua kalimah syahadat di akhir hayatnya.
Cukuplah Dalam Boncel di tanah sunda yang diberikan penyakit kesrek
(gatal-gatal) akibat menyakiti hati ibu bapaknya saat berkunjung ke
pendopo kewedanaannya. dan cukuplah Malin Kundang yang dikutuk menjadi
batu karena tidak mau mengakui ibu kandungnya.
Pada peringatan hari ibu tahun ini saya mengajak kepada
saudara-saudara saya seiman mari kita mengingat kembali apa yang telah
ibu kita lakukan untuk kita, bukankah perut ibu kita pernah menjadi
tempat tinggal kita selam kurang lebih 9 bulan ?, bukankah air susunya
pernah menjadi minuman kita selama kurang lebih 2 tahun ?, dan bukankah
pelukan dan pangkuannya pernah menjadi tempat pelipur tat kala kita
bersedih dan membutuhkan perlindungannya.
Buat saudaraku yang masih memiliki ibu mari kita sama-sama bahagiakan
ibu kita, mungpung masih ada. Jangan sampai ada penyesalan disuatu saat
nanti karena kita tak bisa membahagiakannya. Buat yang sudah tidak
memiliki ibu jika anda telah bersuami/beristri, maka muliakanlah mertua
anda. Karena mertua sama kedudukan dengan Ibu yang telah melahirkan
kita, dia sama-sama mahram (perempuan yang tidak boleh dinikahi) untuk
kita. Jangan pernah berkata kalau mertua itu orang lain yang
keberadaannya tidak perlu kita muliakan, nau’dzubillahi min dzalik.
Ingat ! “Terhadap orang Tua kita, Jika Kita tidak Bisa
Membahagiakannya, maka jangan sekali-kali kita mengecewakannya, apalagi
kalau sampai menyakitinya”.
Hasbunallah wani’mal wakiil
ni’mal maula wani’mannashiir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar