Rabu, Desember 14, 2011

Doa-Doa

بِسْــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ الرَّحِيم



Doa-Doa Kami 
Obat Hati Yg Gersang


Assalamu’alaikum Wr. Wb. 

Abu Hurairah ra. bercerita, seseorang melapor kepada Rasulullah saw, tentang kegersangan qalbu yang di alaminya. Nabi menegaskan, bila engkau mau menghidupkan qalbumu, beri makanlah orang orang miskin dan cintai anak yatim (H.R. Ahmad).

Saya mengutip hadist ini, ingat akan kegelisahan hidup seorang teman. Perasaan serba kurang, padahal ia telah berada dalam standart hidup cukup mampu. Memiliki rumah ukuran besar dan satu mobil. Lantas mengapa ia masih juga gelisah?

Saya menyarankan dia untuk menunaikan zakat, infak, sedekah, dan kepedulian lainnya yang di landasi tujuan membahagiakan fakir, miskin, dan yatim sebagai ekspresi dari jiwa syukur atas anugerah nikmat Allah. Syukur di sini adalah aktivitas yang lahir dari keyakinan, bahwa harta yang di milikinya, titipan Allah yang harus dipergunakan secara proporsional sesuai dengan yang di kehendaki-Nya.

Konon Nabi Ibrahim As. tidak bersedia makan kecuali jika ada beberapa tamu yang ikut serta makan bersama di mejanya. Suatu saat ketika terjadi tidak ada seorang tamu pun yang datang kerumahnya, padahal ia sudah merasa lapar. Ibrahim pun pergi keluar untuk mencari seseorang yang bersedia diajak makan bersamanya. Akhirnya di tepi hutan, ia bertemu dengan seorang yang telah berusia lanjut.

Ibrahim pun mengundangnya untuk makan. Di tengah perjalanan, Ibrahim as bertanya kepada lelaki tua itu mengenai agama yang di anutnya. Si lelaki tua itu menjawab, bahwa ia seorang yang tidak beragama (Atheist). Mendengar hal ini, Ibrahim menjadi marah dan membatalkan undangan makannya kepada si lelaki tua itu.
Namun tak lama setelah itu, Ibrahim as mendengar suara dari atas “ Wahai Ibrahim, kami bersabar atasnya selama tujuh puluh tahun meskipun ia tidak beriman (kepada kami), namun engkau tidak dapat bersabar atasnya, meskipun hanya tujuh menit saja?” Mendengar itu, Ibrahim as pun sadar, lalu ia segera menyusul lelaki tua itu untuk kembali kerumahnya untuk makan malam bersamanya.

Rasulullah saw bersabda, “Seseorang yang melewati malamnya dengan perut kenyang sedangkan tetangganya menderita lapar, berarti ia tidak pernah beriman kepadaku. Pada hari kiamat kelak, Allah tidak akan memandang penduduk suatu negri yang salah satu warganya kelaparan.”

Ketika seorang miskin mati kelaparan, itu terjadi bukan karena tuhan tidak memperhatikannya. Tetapi karena kita enggan memberikan kepada orang itu sesuatu yang dibutuhkannya. Lantaran ada bisik rasa selalu kekurangan dalam hati kita. Sehingga kita lebih takut rugi jika memberi. Padahal seperti wasiat Rasulullah SAW, memberi dan mencintai fakir miskin, obat mujarab untuk menjernihkan dan menenangkan hati dan jiwa manusia.

Itu sepenggal cerita teladan yang penting untuk kita simak dan perlu kita apresiasikan dalam keseharian. Supaya kita terbebas dari berbagai penykit yang muncul beragam dalam dekade ini. Dimana banyak penyakit yang timbul dalam kekinian, banyak disebabkan karena persoalan mintal yang tidak dilandasi rasa syukur, tetapi sebaliknya gengsi dan keserakahan berkecamuk dibenaknya. Na’udubillah tsumma Na’udubillah. Semoga kita dapat membebaskan diri dari penyakit hati dan ketidak pedulian. Dan semoga kita senantiasa diberikan kesehatan serta kebahagian oleh Allah. Cerita ini juga modah-modahan memberikan ilham mamfaat bagi kita semua, amien ya Mujibas Saailien.(rep/har)

Wassalamu’alaikum Wr. Wb.


Do'a Untuk Dermawan 



Ya Allah Ya Tuhan Kami
Engkau Maha Pemurah Dan Maha Pemberi
Engkau Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang
Kami bersyukur atas rahmat dan hidayah-Mu
Atas berkah dan ridho-Mu melalui hamba-hambaMu yang Engkau kirimkan kepada kami
Mereka berkenan menjadi donatur kami, baik yang tetap maupun yang insidentil
Mereka semua modah-modahan tergolong orang-orang yang sholeh dan sholehah
Mereka peduli membantu kami dengan beras tatkala kami lapar
Meraka membantu kami dengan uang tatkala kami butuh biaya sekolah
Mereka membantu pakaian tatkala baju kami sudah usang
Mereka memikirkan kami tatkala orang-orang sedang lupa
Terimalah amal-amal donator kami wahai Sang Maha Belas-Kasih
Berilah mereka ganti dengan rejeki yang halal dan melimpah-ruah
Berilah mereka dan keluarganya ketenangan dan kesehatan yang prima
Agar mereka dapat beribadah dan bekerja dengan tenang dan khusu’
Jauhkan mereka semua dari mara bahaya, balak dan bencana serta semua yang tidak diinginkannya
Jauhkan pula mereka dari ujian yang mereka tidak kuat dalam menanggungnya
Kabulkan yaa Rob…., cita-cita dan harapan mereka dengan mudah dan sempurna
Nyatakan impian dan maksud-maksud baik mereka para donatur kami
Ampuni segala dosa-dosanya, dan berilah mereka keberkahan hidup
Tuntunlah mereka semua dengan petunjuk dan hidayahmu menuju jalan surgaMu
Berikan mereka kebahagiaan, yang dapat mereka rasakan sejak di dunia hingga akhirat

Amien yaa mujibas saailien……!.

Amal Saleh Sang Pengabul Keinginan 

Agama islam dalam pandangan filosof Muslim terkemukan, Ibnu zina, tak hanya menekankan pikiran, tetapi terlebih lagi adalah tindakan atau perbuatan (‘amal). Bahkan dalam islam, perbuatan atau tindakan dapat dipandang sebagai mood of existence, yaitu cara beradanya manusia. Seseorang disebut ada (eksis) bila ia bekerja atau berbuat. Tanpa kerja, ia sama denga tidak ada ( wujuduh-uka’adamih-i). 
Terdapat beberapa prinsip amal saleh yang perlu di ketahui.
Pertama, amal saleh adalah buah dari iman (tsamrat al-iman). Iman tak fungsional dalam kehidupan tanpa amal saleh. Sebaliknya, perbuatan tak dinamai amal saleh bila tak bersandar pada iman.

Dalam islam, integrasi iman dan amal menjadi pangkal keselamatan dan kesuksesan hidup manusia.

‘Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar benar berada dalam kerugian, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh’.

(QS AL-’Ashr [103]:1-3)

Kedua, amal saleh adalah alam (nature ) manusia.Menurut naturenya, manusia suka pada kebaikan. Kerena kebaikan adalah alam manusia, maka sesungguhnya hanya yang baik (kebaikan) yang bersifat manusiawi dalam arti berguna bagi manusia.

Sedangkan yang buruk (keburukan), dengan sendirinya tidak bersifat manusiawi dalam arti tidak berguna dan tidak sesuai dengan alam dan kemuliaan manusia.


‘Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya, sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di bumi’.

(QS Arra’d [13] : 17).

Ketiga, amal saleh tidak untuk tuhan, tapi untuk kebaikan manusia itu sendiri. Manusi harus beragama dan beramal saleh, bukan untuk tuhan, tapi untuk kebaikan hidupnya sendiri di dunia dan di akhirat. Jangan mengira, kalau seseorang berbuat baik, maka ia telah merasa dirinya berbuat baik kepada tuhan.


“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada allah; dan Allah Dialah yang maha-kaya (tidak memerlukan sesuatu ) lagi maha terpuji, “(QS Fathir [35]: 15).

Keempat, amal saleh mendorong terkabulnya doa. Prinsip ini didasarkan pada ayat berikut,


‘Barang siapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah lah kemulian itu semuanya. Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik, dan amal saleh dinaikkan-Nya’. (QS Fahtir [35] : 10)

Jadi, untuk terkabulnya doa, diperlukan kekuatan pendorong bernama amal saleh. Namun, amal saleh disini tak hanya bermakna kebaikan dalam arti sempit. Tapi merupakan amal saleh dalam arti luas, berupa kerja keras dan kerja cerdas yang mendorong produktivitas, kerja yang mendatangkan kebaikan (dzatu shalah) bukan hanya bagi pelakunya, tapi juga bagi umat dan bangsa. (rep/har).

Hukum Mengemis dari Kaca Mata Islam 


Ketika kita membahas tentang fenomena pengemis dari kacamata kearifan, hukum, dan keadilan, maka kita harus membagi kaum pengemis menjadi dua kelompok: Pertama : Kelompok pengemis yang benar-benar membutuhkan bantuan. Secara riil (kenyataan hidup) yang ada para pengemis ini memang benar-benar dalam keadaan menderita karena harus menghadapi kesulitan mencari makan sehari-hari. Sebagian besar mereka ialah justru orang-orang yang masih memiliki harga diri dan ingin menjaga kehormatannya. Mereka tidak mau meminta kepada orang lain dengan cara mendesak sambil mengiba-iba. Atau mereka merasa malu menyandang predikat pengemis yang dianggap telah merusak nama baik agama dan mengganggu nilai-nilai etika serta menyalahi tradisi masyarakat di sekitarnya. Kedua : Kelompok pengemis gadungan yang pintar memainkan sandiwara dan tipu muslihat. Selain mengetahui rahasia-rahasia dan trik-trik mengemis, mereka juga memiliki kepiawaian serta pengalaman yang dapat menyesatkan (mengaburkan) anggapan masyarakat, dan memilih celah-celah yang strategis. Selain itu mereka juga memiliki berbagai pola mengemis yang dinamis, seperti bagaimana cara-cara menarik simpati dan belas kasihan orang lain yang menjadi sasaran. Sumber : almanhaj.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar